Mengapa saya memakai hijab ? Cetak
Ditulis oleh No Name   
Minggu, 29 Maret 2009 08:16

 

 Oleh Yvonne Ridley  (mualaf Inggris eks tahanan Taliban)

 

 

 Dulu saya melihat wanita berkerudung sebagai manusia yang

 pendiam, makhluk yang tertindas. Namun, kini saya melihatnya

 sebagai sosok yang memiliki banyak keahlian, berbakat, dan

 berpendirian kuat dimana menjelma sebagai bentuk solidaritas

 persaudaraan yang bahkan terlalu agung untuk dibandingkan

 dengan persaudaraan feminisme Barat.

 

 Politisi dan jurnalis senang mengangkat isu tertindasnya

 perempuan di dalam Islam tanpa pernah mengajak berbicara

 para perempuan berkerudung itu sendiri.

 

 Mereka sama sekali tidak memiliki bayangan bagaimana wanita

 muslim terlindungi dan dihormati dalam Islam yang telah

 berlangsung selama lebih dari 1400 tahun yang lalu.

 

 Namun dengan mengupas isu budaya seperti mempelai

 anak-anak, penyunatan anak perempuan, pembunuhan demi

 kehormatan dan perkawinan paksa, mereka pikir mereka

 berbicara dengan ilmu.

 

 Dan saya juga muak dengan dicontohkannya praktik di Saudi

 sebagai contoh bagaimana wanita ditekan hak-haknya seperti

 larangan mengemudi di negara tersebut.

 

 Hal-hal diatas sebenarnya tidak ada hubungannya dengan

 Islam, namun itu semua menjadi sasaran empuk untuk

 memojokkan Islam dengan bergaya sok tahu. Padahal sangatlah

 naif untuk mencampuradukkan budaya dengan Islam.

 

 Saya pernah diminta untuk menulis bagaimana Islam

 membolehkan suami untuk menghajar isterinya. Enak saja,

 tidak benar itu. Kalangan pengkritik Islam tentu akan dengan

 senang mengutip ayat-ayat Al Quran atau Hadith secara

 serampangan dan di luar konteks. Apabila seorang suami akan

 menaikkan tangannya terhadap isterinya, ia dilarang untuk

 meninggalkan bekas pukulan di tubuh isterinya. Dengan kata

 lain, Quran sebenarnya berkata," Jangan kau hajar

 isterimu, Hai Bodoh."

 

 Nah mari kita lihat statistik yang menarik. Hmm, saya mulai

 mendengar kata-kata sumpah serapah. Menurut, informasi

 Kekerasan Rumah Tangga Nasional (Amerika Serikat), 4 juta

 wanita mengalami kekerasan oleh pasangannya selama rata-rata

 12 bulan.

 

 

 Tidak kurang dari 3 wanita dibunuh oleh suami atau pacarnya

 setiap hari. yang berarti sekitar 5500 wanita yang dihajar

 hingga mati sejak peristiwa 9/11.

 

 Mungkin ada yang bilang bahwa fakta tersebut adalah suatu

 kenyataan yang mencengangkan yang bisa terjadi di masyarakat

 yang konon beradab. Namun sebelum saya berkata lebih jauh,

 saya perlu katakan bahwa kekerasan terhadap wanita adalah

 masalah global. Pria yang melakukan kekerasan pun memiliki

 latar belakang yang beragam dari segi agama maupun budaya.

 Kenyataan menunjukkan bahwa satu dari tiga wanita di dunia

 merupakan korban kekerasan dan pelecehan seksual semasa

 hidupnya. Kekerasan terhadap wanita bukan monopoli agama,

 status, kekayaan, warna kulit ataupun budaya tertentu.

 

 Namun demikian, ketika Islam pertama kali muncul, wanita

 merupakan obyek yang diperlakukan secara tidak semestinya.

 Bahkan di Barat, para wanita pun masih menghadapi masalah

 karena para pria yang masih berpikir memiliki superioritas.

 Ini terlihat dari jenjang promosi dan struktur upah yang

 terlihat dari tipe pekerja pembersih biasa hingga pemburu

 karir di tingkat direksi atau manajemen.

 

 Wanita di Barat pun masih diperlakukan sebagai komoditas

 dimana perbudakan seksual mengalami peningkatan, dengan

 dalih sebagai upaya pemasaran dimana tubuh wanita menjadi

 aset penjualan produk dalam dunia periklanan. Sebagaimana

 disebutkan sebelumnya, ini terjadi di dalam masyarakat

 dimana perkosaan, pelecehan seksual dan kekerasan adalah hal

 yang lumrah. Di dalam masyarakat ini pula terjadi ilusi

 persamaan antara pria dan wanita dan tingkat pengaruh

 seorang wanita di dalam masyarakat tersebut diukur dari

 besaran payudara yang ia miliki.

 

 Dulu saya melihat wanita berkerudung sebagai manusia yang

 pendiam, makhluk yang tertindas. Namun, kini saya melihatnya

 sebagai sosok yang memiliki banyak keahlian, berbakat, dan

 berpendirian kuat dimana menjelma sebagai bentuk solidaritas

 persaudaraan yang bahkan terlalu agung untuk dibandingkan

 dengan persaudaraan feminisme Barat. Pandangan saya berubah

 sejak pengalaman yang saya lalui ketika ditahan oleh Taliban

 karena menyelundup ke Afghanistan dengan mengenakan burkha

 di bulan September 2001.

 

 Selama 10-hari dalam kurungan, saya membuat perjanjian

 dengan mereka bahwa saya akan membaca Al Quran dan

 mempelajari Islam kalau mereka akan membiarkan saya pergi.

 Aneh tapi nyata, mereka pun menerima tawaran saya dan saya

 pun dibebaskan. Ketika saya kembali dari sana saya pun

 memegang janji saya. Sebagai jurnalis yang meliput peristiwa

 di Timur Tengah, saya pun menyadari untuk belajar lebih

 banyak tentang suatu agama yang jelas-jelas juga menjadi

 suatu pandangan hidup bagi masyarakat di sana.

 

 Tidak, saya bukan korban Sindrom Stockholm. Untuk menjadi

 korban sindrom ini, anda harus memiliki hubungan yang baik

 dan erat dengan mereka yang menahan anda. Ini tidak terjadi

 dengan saya. Selama saya dikurung, saya sumpah serapahi

 mereka menolak makanan yang mereka tawarkan dan melakukan

 mogok makan. Saya tidak tahu siapa yang lebih senang ketika

 saya akhirnya dibebaskan - mereka atau saya!

 

 Awalnya, saya pikir membaca Quran tidak akan lebih dari

 sekedar kegiatan akademis. Namun saya benar-benar terhenyak

 ketika saya temukan secara gamblang bahwa wanita memiliki

 kesamaan spiritual, pendidikan dan harga diri. Hadiah bagi

 seorang wanita ketika ia melahirkan dan membesarkan

 anak-anak mereka benar-benar mendapatkan pengakuan yang

 tulus. Wanita muslim pun bangga untuk menyatakan bahwa

 mereka adalah ibu rumah tangga.

 

 Di samping itu, Nabi Muhammad Saaw pun menyatakan bahwa

 wanita yang terpenting dalam keluarga adalah seorang Ibu,

 Ibu, dan Ibu. Nabi juga berkata bahwa surga terletak di

 bawah telapak kaki ibu. Bayangkan, berapa banyak wanita yang

 mampu mencapai 100 peringkat wanita paling berpengaruh hanya

 dengan predikat 'Ibu Terbaik'?

 

 Ketika seorang wanita secara Islam memilih dengan sadar

 untuk tetap tinggal di rumah dan membesarkan anak-anak

 merupakan suatu bentuk baru dari harga diri dan kehormatan

 di mata saya. Pilihan tersebut sama sekali tidak lebih

 rendah dibanding dengan para wanita muslim lainnya yang

 memilih untuk bekerja, berkarir dan mengembangkan profesi

 mereka.

 

 Saya pun mulai mencermati hal-hal seperti hukum warisan,

 pajak, kepemilikan harta dan perceraian, yang semuanya

 mungkin bisa menjadi inspirasi bagi para pengacara Holywood.

 Misalnya, wanita berhak mempertahankan apa yang telah

 mereka raih dan miliki sedangkan para suaminya harus

 menyerahkan separuh dari nilai yang ia miliki.

 

 Agak lucu bukan kedengarannya ketika para media tabloid

 dengan heboh meliput berita aktris bintang film yang

 melakukan perjanjian pra nikah? Padahal para wanita muslim

 sudah menjalankan perjanjian bahkan sejak hari pertama.

 Mereka bisa memilih untuk bekerja atau tidak, dan semua

 penghasilan yang ia dapati dari pekerjaannya adalah

 miliknya, sedangkan suaminya harus membayar semua kebutuhan,

 tagihan dan belanja keluarga.

 

 Apa-apa yang mereka para feminis perjuangkan di tahun 70an,

 ternyata sudah dinikmati oleh para wanita muslim 1400 tahun

 yang lalu.

 

 Sebagaimana saya terangkan tadi, Islam menghormati status

 Ibu dan Istri. Apabila anda memilih untuk tetap tinggal di

 rumah, maka silakan untuk tetap tinggal di rumah. Adalah

 suatu bentuk kehormatan yang luar biasa nilainya untuk

 menjadi pendidik pertama dan terutama bagi anak-anak.

 

 Di saat yang sama, Quran juga menyatakan kalau anda ingin

 bekerja, maka bekerjalah. Jadilah wanita karir, kembangkan

 profesi dan jadilah politisi. Jadilah menjadi sosok apapun

 yang anda inginkan dan jadilah yang terbaik, karena apapun

 yang anda akan kerjakan diniati untuk menggapai ridhaNya.

 

 Saat ini ada kecenderungan yang berlebihan untuk

 menfokuskan pada masalah pakaian wanita muslim terutama oleh

 para pria (baik muslim dan non-muslim).

 

 Memang benar bahwa wanita muslimah wajib untuk berpakaian

 sopan, tetapi banyak sekali masalah lain yang wanita muslim

 hadapi saat ini.

 

 Namun demikian, semua orang masih terobsesi dengan isu

 kerudung atau hijab. Begini, hijab ini adalah busana

 resmiku, dan dengan ini saya nyatakan bahwa saya adalah

 seorang muslim dan saya harap anda perlakukan saya dengan

 hormat.

 

 Bisakah anda bayangkan bagi seseorang untuk memberitahu

 eksekutif Wall Street atau bankir Washington untuk

 mengenakan kaos t-shirt dan celana blue jeans? Dia tentu

 akan menyatakan bahwa busana resmi yang ia kenakan adalah

 yang mendefinisikan dia selama jam kerja dan secara tidak

 langsung ia nyatakan kepada dunia untuk mendapatkan

 perlakuan sebagaimana mestinya.

 

 Anehnya, di Inggris, kita dengar ucapan Menlu Jack Straw

 tentang nikab (penutup wajah yang hanya memperlihatkan mata)

 sebagai penghalang yang tidak bisa diterima. Wahai para

 pria, kapan anda akan berhenti mengomentari busana wanita?

 

 Kita juga dengar ucapan Perdana Menteri Inggris Gordon

 Brown dan John Reid yang memberikan pernyataan yang tidak

 pantas tentang nikab, padahal desa asal mereka adalah

 perbatasan Skotlandia dimana para pria di sana mengenakan

 rok!

 

 Lalu kita juga temukan para anggota dewan parlemen yang

 ikut-ikutan menggambarkan nikab sebagai penghalang

 komunikasi. Benar-benar ucapan tidak berkualitas. Lalu

 bagaimana mereka menjelaskan fenomena ponsel, email, radio,

 sms dan faks yang dalam sehari-harinya mereka tidak pernah

 melihat wajah seseorang.

 

 Mayoritas para akhwat yang saya kenal yang mengenakan nikab

 adalah wanita kulit putih, yang masuk Islam dan tidak lagi

 menginginkan sorotan, rayuan laki-laki dan perilaku mereka

 yang tidak senonoh. Asal tahu saja, ada sepasang akhwat di

 London yang saya kenal yang mengenakan niqab saat demo anti

 Perang karena tidak tahan dengan bau rokok.

 

 Saya khawatir Islamophobia telah menjadi bidikan kaum

 rasis. Tetapi secara pengecut, kaum chauvinis pria dan kaum

 wanita muslim sekuler kiri bergabung menyerang busana

 muslimah yang tidak lagi bisa ditolerir oleh para muslimah.

 

 Saya sendiri bertahun-tahun adalah feminis dan hingga

 sekarangpun masih menjadi feminis muslim yang berjuang untuk

 kepentingan kaum wanita. Bedanya adalah, wanita feminis

 muslim adalah jauh lebih radikal ketimbang teman feminisnya

 yang sekuler. Kita semua benci kontes kecantikan dan

 berusaha keras untuk tidak tertawa melihat adanya Miss

 Afghanistan yang mengenakan bikini sebagai bukti pembebasan

 wanita di Afghanistan.

 

 Saya telah kembali ke Afghanistan beberapa kali dan saya

 bisa katakan bahwa tidak ada wanita karir yang bangkit dari

 reruntuhan di sana. Wanita muslimah Afghan berharap kepada

 saya agar Barat tidak terlalu terobsesi dengan Bhurka yang

 mereka kenakan. "Jangan perjuangkan kami untuk menjadi

 wanita karir, tapi carikan pekerjaan buat suami kami.

 Tunjukkan bahwa kami bisa mengirim anak-anak ke sekolah

 secara aman tanpa takut diculik. Berikan kami keamanan dan

 makanan di meja makan," demikian kata seorang wanita

 muslimah kepada saya.

 

 Muslim feminis muda melihat kerudung dan nikab sebagai

 simbol politik dan persyaratan agama sekaligus. Ada yang

 menganggap bahwa ini adalah simbol perlawanan mereka

 terhadap gaya hidup Barat yang sarat dengan mabuk-mabukan,

 seks bebas, dan narkoba.

 

 Superioritas dalam Islam tumbuh karena ketaqwaan, bukan

 kecantikan, kekayaan, kekuasaan, posisi, maupun jenis

 kelamin.

 

 Sekarang katakan kepada saya mana yang lebih membebaskan.

 Apakah dengan melihat seberapa pendek rok yang saya kenakan

 dan ukuran payudara, atau dengan menilai karakter, pikiran

 dan kecerdasan?

 

 Majalah-majalah memberikan pesan kepada wanita kalau mereka

 tidak tinggi, langsing dan cantik maka mereka tidak akan

 dicintai dan diinginkan. Tekanan kepada para pembaca majalah

 remaja untuk memiliki pacar pun sangat menjengkelkan.

 

 Islam berkata kepada saya bahwa saya memiliki hak untuk

 mendapatkan pendidikan dan adalah tugas saya untuk mencari

 ilmu, baik ketika saya masih lajang atau sudah menikah.

 

 Tidak ada di dalam Islam bahwa kami sebagai wanita harus

 mencuci, membersihkan rumah, atau memasak demi para pria.

 

 Tapi tidak hanya laki -laki muslim yang wajib mempelajari

 kembali perannya di masyarakat. Coba cek kata-kata Pat

 Robertson di tahun 1992 tentang pandangannya terhadap

 wanita. Lalu katakan kepada saya mana yang lebih beradab.

 

 Dia berkata," Feminisme mendorong wanita untuk

 meninggalkan suami mereka, membunuh anak-anak, melakukan

 sihir, menghancurkan kapitalisme, dan menjadi lesbian."

 

 Ini adalah kata-kata orang Amerika yang hidup semasa

 Jahiliyah yang perlu dimodernisasi dan di-adab-kan. Sosok

 seperti inilah yang justru mengkerudungi penglihatan mereka

 dan kita perlu membuka kerudung kejahilan mereka sehingga

 bisa membiarkan masyarakat dunia untuk melihat Islam dengan

 mata kepala mereka sendiri sebagaimana apa adanya.

 

 

  Dr Washington Post

http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/content/article/2006/10/20/AR2006102001259.html

 

Tulisan aslinya ada di sini:

http://yvonneridley.org/yvonne-ridley/articles/how-i-came-to-love-the-veil-4.html

 

Pemutakhiran Terakhir ( Minggu, 29 Maret 2009 08:18 )